Ini Ternyata Penyebab Masyarakat Gampang Tergiur Investasi Bodong

Bisnis  
Waspada investasi bodong (foto: pixabay).
Waspada investasi bodong (foto: pixabay).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap salah satu penyebab masyarakat mudah tergiur dengan penawaran investasi bodong. Ini karena sebagian masyarakat hanya mengedepankan untung semata dan abai dengan risiko investasi.

"Saat ada penawaran investasi, masyarakat umumnya hanya melihat satu sisi saja, yaitu seberapa besar keuntungan yang diperoleh dan jarang berpikir ada risiko di sana," ujar Kepala OJK Sumatra Barat (Sumbar) Yusri, dilansir kantor berita Antara, pertengahan Mei 2022.

Menurut Yusri, karena masyarakat abai dengan risiko investasi, tak jarang yang menjadi korban kalangan tepelajar bahkan juga ada pejabat. "Masyarakat kurang hati-hati saat ada penawaran investasi, tidak mendalami apakah wajar atau tidak keuntungannya, statusnya legal atau tidak," kata Yusri.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Akhirnya sebagian masyarakat itu hanya berhitung ketika investasi dengan tawaran keuntungan yang menggiurkan dalam sekian bulan modal akan balik. "Belum lagi ada testimoni dari saudaranya yang sudah mendapatkan keuntungan yang besar, mereka tidak memikirkan lagi risikonya," jelas dia.

Oleh sebab itu, selagi orang hanya berpikir untung dengan cepat namun mengabaikan risiko, maka akan rawan terjerat investasi bodong. Ia mengemukakan OJK terus melakukan edukasi bersama industri jasa keuangan agar masyarakat bijak dalam berinvestasi, tidak hanya semata mengejar keuntungan namun juga mempertimbangkan risiko. "Setiap investasi pasti ada risikonya," jelas dia.

OJK telah menyediakan infrastruktur investasi yang lebih aman dan ada pengawasan terhadap perusahaan investasi tersebut. Edukasi yang masif perlu dilakukan dan kemudian jika ada penawaran investasi yang diragukan maka silakan tanyakan kepada OJK atau Satgas Waspada Investasi di daerah. "Sehingga OJK bisa lebih cepat berkoordinasi dan mengantisipasi agar masyarakat tidak menjadi korban," tegasnya.

Pada posisi Maret 2022, Single Investor Identification (SID) didominasi oleh investor reksadana yang mencapai 110.417 investor dan investor saham sebanyak 54.313 investor. Lalu investor Surat Berharga Negara (SBN) baru tercatat sebanyak 4.659 investor. Investor Efek Beragun Aset (EBA) baru sebanyak tiga investor.

"Dari 54.313 investor saham, 70,30 persen didominasi oleh usia di bawah 30 tahun. Jumlah SID investor saham tumbuh sebesar 66,38 persen dengan transaksi sebesar Rp 1,81 triliun atau tumbuh sebesar 35,17 persen," kata Yusri menjelaskan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

email: caricuan.republika@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image